Sorghum, Pangan Masa Depan Bangsa Kita

Populasi penduduk indonesia saat ini tercatat lebih dari 220 juta orang. Dengan konsumsi beras perkapita sekitar 139 kg. maka terbayang berapa banyak jumlah beras yang harus tersedia setiap tahunnya. Jumlah penduduk ini semakin lama semakin banyak dan secara linear, kebutuhan pangan juga semakin meningkat. Produksi beras Negara kita terbatas, karena harus jumlah lahan terus tereduksi akibat industrialisasi. Keadaan ini membuat kita perlu mengadakan diversifikasi pangan. Di samping itu, konsumsi air juga terus meningkat. Sehingga dibutuhkan penghematan penggunaan air untuk memproses bahan pangan. Selama ini, konsumsi utama kita ialah beras. Beras yang berasal dari padi itu mengkonsumsi sangat banyak air untuk dijadikan 1 kg bahan keringnya. Tercatat dibutuhkan lebih dari 520 kg air.
Dari fakta di atas, maka saat ini kita perlu mencari tanaman yang mampu tahan pada lahan kering, kurang konsumsi air, mampu dijadikan sumber pangan dan memberikan energy. Sorghum ialah salah satu jawabannya, karena sorghum mampu tumbuh di lahan marginal (kering, asam, salinitas tinggi), adaptasi luas, butuh sedikit air, kebutuhan pada input pertanian lebih rendah, cocok ditanam pada lahan kering dan panas-cocok bagi indonesia, berguna sebagai bahan pangan dan lainnya. Sorghum hanya membutuhkan 332 kg untuk menghasilkan 1 kg bahan kering, , sedangkan jagung 368 kg, barley 434 kg, dan gandum 514kg. Umur tanaman relatif pendek (100-110 hari), daya adaptasi tinggi, dan biaya produksi rendah (Wijaya, 1998). Tercatat pada tahun 1999, produksi sorgum kering 3-4 ton/ hektar.
Jenis dari sorghum bermacam-macam, ada yang berbentuk spikelet dan malai, selain itu ada sweet sorghum yang biasanya digunakan untuk bioetanol, grain sorghum yang digunakan untuk pangan, forage sorghum sebagai pakan, dual purpose sorghum untuk pangan dan pakan, dan broom sorghum yang malainya digunakan sebagai sapu.
Di dunia, sorghum telah dijadikan sebagai tanaman pangan urutan ke lima setelah gandum, padi, jagung, barley. Sedangkan di amerika serikat, sorghum putih menduduki peringkat ke tiga. Selain menjadi bahan pangan, sorghum juga digunakan untuk pakan, dan bahan baku industry lain seperti bioetanol.
Dipandang dari kandungan gizi, sorghum mengandung vitamin B1 (4,4 mg), protein (11 g), zat besi (0,38mg), kalsium (28mg), dan fosfor (287mg), lemak (3,3mg), karbohidrat (73 g). Energy yang dihasilkan (332 cal). Dibandingkan dengan beras, komposisi beras ialah memiliki kalori (360 cal), protein (6,8g), karbohidrat (78,9 g), lemak (6,0mg), kalsium (9 mg), besi (0,8mg), fosfor(140mg), vit.B1 (0,2mg). terlihat bahwa sorghum lebih unggul dari beras di sisi kandungan protein, lemak, zat besi, fosfor, vitamin B1, dan kalsiumnya.
Sorghum memiliki prospek yang cerah, karena lahan pertanian yang sesuai cukup luas, mampu memanfaatkan lahan tidur sehingga lebih produktif, dan tidak berkompetisi dengan tumbuhan lain karena tumbuh di lahan marginal. Karena prospek pengembangannya begitu cerah, sampai-sampai bill gates foundation berani menggelontorkan dana lebih dari 60 juta USD untuk mengembangkan sorghum di Afrika dan Negara berkembang lainnya.

Cara mengolah sorghum juga mudah, tidak perlu membeli peralatan khusus untuk mengolahnya. Sorghum dapat digiling dan disosoh dengan penggilingan dan pensosoh beras. Selain itu cara memasak juga mudah, yakni menanak dengan tanakan nasi ataupun rice cooker. Yang berbeda hanyalah jumlah air dan waktu yang dibutuhkan untuk mengolahanya menjadi seperti nasi. Sorghum dapat diolah juga menjadi berbagai panganan seperti kue, snack ringan, pizza, roti, crackers, biscuit, sereal, salad dressing, gula merah, dan bahkan minuman. Sorghum menjadi solusi bahan pangan bagi penderita alergi gandum.
Keunggulan sorghum menjadi tidak ada artinya jika kita tidak mencoba untuk membudidayakan dan mengonsumsinya. Perlu kerjasama dari berbagai pihak untuk menyosialisasikan dan memasyarakatkan sorghum. Hal ini tidaklah mudah, karena kita sudah lebih dari setengah abad menjadi makhluk pemakan nasi. Edukasi semenjak dini juga perlu diterapkan. Agar bangsa kita tidak menjadi “beras minded”. Seolah-olah beras menjadi satu-satunya sumber karbohidrat kita. Dan menjadi sangat ribut ketika hanya mengimpor 500ribu ton beras saja. Bandingkan dengan impor gandum yang jutaan ton, tapi kita hanya terdiam. Ubahlah pandangan kita! Mari bersama bangun ketahanan pangan Indonesia!

Advertisements