Bahaya Daging Olahan – Respon Terhadap Kategori Baru WHO Terkait Faktor Pemicu Cancer

Rekan-rekan pasti sudah mendengar di berbagai media bahwa baru-baru ini, tangan kanan WHO, IARC,  menetapkan bahwa bahaya daging olahan yang dikateorikan sama dengan merokok. Berikut ini release resmi tentang pengkategorian tersebut:

151026-IARC-Meat-rating-UPDATE2

Rekomendasi yang dikeluarkan ini sebenarnya bukan sesuatu hal yang cukup baru di dunia Food Science, saya pribadi tentu saja punya beberapa pertanyaan yang bisa jadi pertanyaan anda juga. Tulisan dalam blog ini mudah-mudahan tidak membuat anda menjadi paranoid dan bisa melihat polemic ini secara lebih jernih. Sumber bacaan yang saya ambil direkomendasikan oleh sahabat saya Kamalita yang saat ini sedang khusus mengambil Master di bidang kesehatan masyarakat/nutrition epidemiologist di Wageningen, Belanda.

Yu kita telaah lebih jauh tentang berita release IARC ini..

Team yang merelease ini siapa ya?

Namanya adalah IARC alias International Agency for Research on Cancer. Grup ini adalah kumpulan dari expert dan peneliti cancer dari seluruh dunia. Badan yang sangat dihormati ini merupakan perpanjangan tangan dari WHO di bidang cancer. Keputusan yang mereka ambil biasanya sangat berpengaruh sebagai penentu sebuah kebijakan Negara.

Kemudian, bagaimana mereka bekerja dan menilai suatu produk masuk ke kategori apa?

Grup ini menyaring semua publikasi ilmiah tentang suatu bahan yang diuji bisa menyebabkan cancer. Dalam hal ini team dari IARC menyaring lebih dari 800 publikasi ilmiah yang telah terverifikasi. Dari publikasi inilah, team IARC merumuskan penggolongan suatu hal memiliki bukti yang cukup sebagai pemicu cancer.

satu hal yang penting dan perlu digarisbawahi adalah penggolongan yang dimaksudkan oleh IARC ini adalah berdasarkan kekuatan bukti bukan tingkat resiko. Sekali lagi saya tegaskan, bahwa mereka memeriksa berdasarkan bagaimana kekuatan bukti bukan tingkat resiko kejadiannya!

Hal ini mengakibatkan factor yang memiliki kekuatan bukti sama, meskipun resikonya Antara satu factor dan lainnya berbeda jauh, maka akan digolongkan menjadi group yang sama. Dengan kata lain, penggolongan yang direlease adalah penggolongan seberapa yakin bahwa factor tersebut berbahaya.. bukan seberapa bahayanya factor tersebut sehingga bisa menyebabkan cancer. Terlihat perbedaannya bukan?

Sekarang, apa itu daging merah/daging olahan dan mengapa daging olahan menjadi berbahaya?

Daging merah adalah daging yang sebelum diproses, memiliki warna merah. Sebut saja seperti daging sapi, kambing, domba, dan lainnya. Hal ini berarti tidak termasuk hewan yang berjenis ungags ataupun ikan. Sedangkan daging olahan tentu saja daging yang sudah diproses misalkan Daging dijadikan sosis, salami, ham, sosis, kornet, bacon. Daging burger yang dibuat fresh tidak termasuk dalam golongan ini.

IARC menyebutkan bahwa mengonsumsi 50 gram daging olahan setiap hari, bisa meningkatkan resiko cancer colorectal (kanker usus pencernaan) sebesar kurang lebih 18 persen. Pertanyaannya kemudian, 18 persen ini dibandingkan dari mana? Ternyata dibandingkan dari populasi umum. Sehingga nilai ini adalah nilai relative. Tambahan lagi, IARC tidak menjelaskan hubungan Antara group yang makan daging olahan ini dengan factor lain yang lebih beresiko yang satu group dengannya.

supaya tergambar perbedaannya, berikut ini ilustrasi resikonya :

151026-Tobacco-vs-Meat-UPDATE

Memang benar juga sih kalau tiap hari makan daging, apalagi sampai makan berlebihan, itu bukan hal yang baik dan bijak jika ingin hidup lebih lama dan sehat. Faktor yang kemungkinan besar menimbulkan cancer adalah yang kita kenal sebagai “haem”. Ini adalah part dari pigment berwarna merah dalam darah. Jika bentuknya sempurna ia bernama haemoglobin. Nah, ketika part haem ini pecah, maka ia bisa membentuk error pada DNA sel dan selanjutnya terbentuklah cancer. Di samping itu, resiko yang lebih besar adalah memakan produk olahan yang notabene menggunakan senyawa nitrite sebagai pengawet, (rekan-rekan bisa cek di ingredient daging olahan) bisa meningkatkan produksi N-nitroso dalam tubuh dan ini bisa memicu cancer. Jadi cukup jelas ya 🙂 kenapa makan daging bisa menimbulkan cancer..

Terus, apa artinya buat kita dan bagaimana respon kita terhadap rekomendasi tersebut?

Tentu saja memakan daging merah baik juga untuk kesehatan. Karena daging merah memiliki kandungan protein, dan mineral lain yang dibutuhkan oleh tubuh. Di Inggris, pemerintahnya menganjurkan untuk makan tidak lebih dari 70 gram daging merah yang telah dimasak setiap harinya. Sebagai gantinya, tentu saja makanlah makanan yang banyak mengandung fiber, buah, dan sayuran. Supaya lebih sehat 🙂 Ilustrasi porsinya kurang lebih adalah sebagai berikut:

151026-How-much-meat-spag

 

Jadi, sudah jelaskan? tidak perlu takut bukan.. apalagi menyalahkan orang yang makan daging.. (no offense buat yang menganut vegetarian ya.. ) mudah-mudahan rekan-rekan sudah lebih jelas dan clear ya sekarang tentang sikap kita terhadap rekomendasi dari IARC tersebut 🙂

Indonesian

Sumber bacaan:

http://scienceblog.cancerresearchuk.org/2015/10/26/processed-meat-and-cancer-what-you-need-to-know/

http://www.theatlantic.com/health/archive/2015/10/why-is-the-world-health-organization-so-bad-at-communicating-cancer-risk/412468/

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3108955/

Advertisements

Indonesian FoodTech Blogger Network

IndonesianKali ini saya dan istri saya, Cindy, akan melaunch salah satu project initiative kami, Indonesian FoodTech Blogger Network. Project ini kami adakan karena didasari oleh kurangnya review atau informasi tentang kondisi terkini produk pangan yang ada di Indonesia. Selain itu, pasti banyak juga masyarakat Indonesia yang kepingin tahu sebenernya yang dimakan itu apa sih? Apa fungsi dari ingredient yang ada di kemasan pangan itu, dan kira-kira apa cukup aman dimakan sama anak kita, dsb. Meskipun kami berdua adalah praktisi dari industry pangan, tapi kami sebisa mungkin akan menilai dan memberikan informasi kepada anda secara objective sesuai dengan pengetahuan yang kami miliki.

Jika kita mengamati, review terkait makanan kuliner sudah cukup banyak dan sudah sangat baik, jadi arah pembicaraan dalam review ini tidak akan menyentuh ke sana. Kami akan lebih focus kepada bagaimana penilaian kami terhadap produk pangan yang telah melewati berbagai proses pengolahan, sehingga bisa kita nikmati. Kami akan bahas mulai dari ingredient didalamnya apa saja, kira-kira teknologi dasar apa dalam proses pembuatannya, experience makannya seperti apa, rasa dan aroma, packagingnya, dan segala hal terkait didalamnya. Jadi all science behind the food product, semuanya akan kita coba jelaskan dengan bahasa yang menarik dan mudah dipahami buat anda.

Sementara ini, produk yang kami bahas adalah produk yang sudah tersertifikasi Halal oleh BPOM MUI ya.. 🙂 untuk produk lain yang masih belum halal, kami akan coba minta rekan-rekan lainnya sesama FoodTechnologist untuk mereviewnya 🙂

Ohya, Karena ini namanya saja Indonesian FoodTech Blogger Network, maka kami mengundang rekan-rekan sesama background atau peminat teknologi pangan dari berbagai belahan Indonesia dan dunia, untuk bergabung dengan komunitas blogger ini. Kami juga membuka peluang kerjasama dengan blogger-blogger lain yang punya minat dan background ilmu yang sama, untuk bisa bergabung dalam project sederhana ini 🙂 Siapa tahu dengan bergabungnya kita, bisa memberikan sedikit warna dalam dunia blogger Indonesia. Selain itu, tentu saja siapa tahu kita bisa kopi darat atau menambah jejaring silaturahim. Buat yang ingin mengirimkan hasil reviewnya, kami akan saring dan kami akan cantumkan semua data yang terkait dalam kolom ini. Semua blogger yang bergabung akan kita listing out di sini. For further information, you may reach us at:

Twitter & Instagram: @ga_lih or @cindyfiriera

Facebook: Galihn or Cindyfiriera

Linkedin: Galih or Cindy

Email: nugroho[dot]galih[at]gmail[dot]com

Mudah-mudahan project sederhana dari kami ini bisa bermanfaat untuk semua masyarakat Indonesia 🙂 See you very soon!