Pembicara dalam Pelatihan berseri tentang “menulis”

Pelatihan menulis yang diadakan oleh teman-teman IAAS (International Association of Student in Agricultural and Related Sciences) ini terbagi menjadi beberapa kali sesi pemotretan.. eh pelatihan. Kebetulan di setiap sesinya saya diminta untuk tandem dengan sahabat saya doddy. Kalau yang belum tau, doddy ini salah satu sahabat perjalanan saya waktu kita sama-sama pertama kali ke luar negeri.jerman dan swiss. Trus, beberapa kali kemudian, dia juga jadi sahabat perjalanan ke berbagai event, salah satunya event di Malaysia awal 2009 lalu.
Sesi pertama saya berbagi cerita tentang bagaimana menghasilkan sebuah ide untuk menulis. Menulis itu bukan pekerjaan yang susah lo..karena ide menulis bisa saja didapat dari mana saja.. nah, saya mencoba untuk memberikan sedikit tools agar bisa mengenerate idea dengan mudah.
Berbagai teknik tersebut diantaranya adalah…

• Mind mapping
• Drilling down
• Channeling
• Anti-solution
• Brain writing
• Scamper
• Idea box
• Triz
• 6 thinking hats
• Spinnovator
• Free association
• Vertical thinking
• Futuring
• Fishbone
• Analogy-cross fertile
• PMI, CAF, C&R, SWOT, AGO
• Design, rules, matrix
• Forced relation
• Idea & value grids
• PCP Process

kalo njelasin satu-satu gak bisa di tulisan ini… kepanjangan…hehehehhe…
kontak langsung ke saya saja ya…hehehehhe…
tools ini biasa dipakai di berbagai perusahaan untuk menghasilkan sebuah ide baru, atau mengimprove ide lama mereka, sehingga muncul ide baru yang sesuai dengan konsumen mereka..
selamat mencoba ya…
selanjutnya, di sesi selanjutnya, saya membahas mengenai bagaimana menata konsep tulisan yang mudah dimengerti dan sudah umum digunakan oleh hamper seluruh penulis, terutama yang scientific ya.. bukan yang fiksi.
Penataannya sangat sederhana, tinggal dibagi menjadi tiga bagian besar. Pendahuluan, isi, dan penutup. Simple kan… 
Nah masalahnya tinggal pengembangannya itu..pendahuluan biasanya memasukkan bagian yang kita sebut sebagai latar belakang..kenapa tulisan yang kita buat jadi seperti itu, dan begitu penting. Kalau isi, ya pembahasan serta penjabaran dari ide kita itu apa..sedangkan penutup biasanya berisi kesimpulan dan saran dari penulis. Sederhana bukan? Hehhehehehe…
Nah di edisi selanjutnya nanti saya akan bercerita bagaimana tentang mempresentasikan sebuah karya tulis, sehingga menarik untuk diikuti… tunggu ya…

Advertisements

Kisah Perjalananku ke Jerman dan Swiss thn.2007

Tiada kata yang dapat terucap selain tasbih dan tahmid kepada Nya. Sebuah pengalaman dan kesempatan yang luar biasa. Menjadi yang terindah selama ini. Mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan studi yang saya lakukan di negeri yang indah merupakan mimpi. Dan mimpi itu telah menjadi kenyataan. Berawal dari sebuah tekad dan cita. Alhamdulillah allah telah membukakan jalan. Subhanallah. Memang benar, kata-kata mutiara yang mengatakan bahwa jika kamu yakin dan merasakan kamu bisa, maka pasti ada jalan menuju ke sana, dan kamu pasti bisa.
Persiapan menuju ke sana bukan suatu perkara yang mudah. Pun dengan seleksi yang dilakukan. Sebelum diputuskan berangkat kami harus berjuang dulu untuk lolos seleksi di tingkat nasional. Dengan mengirimkan essai dan interview. Alhamdulillah kami bisa lolos seleksi ini. Tapi kembali masalah tidak selesai sampai di sana. Kami harus mencari sponsor untuk mendanai keberangkatan kami. Untuk tujuh delegasi yang berangkat, kami harus mendapatkan dana sekitar 100 juta rupiah. Karena setiap orang kurang lebih membutuhkan 15 juta rupiah. Harga sebuah motor.
Focus, tetap optimis, dan yakin bahwa kami pasti berangkat dengan membawa manfaat bagi bangsa ini, kami alhamdulillah mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Diantaranya walikota bogor, departemen luar negeri, taman wisata mekarsari, dan yang luar biasanya, kami mendapatkan dana lebih daari 100 juta dari departemen pendidikan nasional bidang program kerjasama luar negeri.
Setiap solat fardu saya selalu menyempatkan untuk sujud syukur atas segala nikmat yang telah kami dapatkan. Rasanya malu jika setelah mendapatkan ini semua, kemudian kami malah takaffur dan tidak memberikan manfaat untuk di sekeliling kami. Bagaimana Pertanggungjawaban kami nanti jika telah menggunakan uang Negara dan rakyat, tetapi tidak bisa memberikan manfaat. Bukankah itu suatu korupsi juga ya? Oleh karena itu, saya berusaha bersama teman-teman delegasi lain dari Indonesia memanfaatkan momentum ini utnuk memberikan manfaat seluas-luasnya bagi bangsa ini.
Menjadi duta Negara di forum internasional ternyata bukan perkara mudah. Kita harus bisa memrepresentaasikan Indonesia secara seutuhnya. Tidak hanya dari sisi pertanian dan pangan yang menjadi bahasan kali ini. Tetapi juga menyangkut budaya, kesenian, dan aspek-aspek lainnya. Saya jadi harus dituntut untuk bisa menyanyikan lagu daerah, menari. Pekerjaan yang mustahil dilakukan kecuali di kegiatan ini saja. Tapi semuanya menyenangkan. Dan mereka sangat kagum dan menghormati kebudayaan yang kita miliki.
Menjadi seorang muslim di negeri yang mayoritas nonislam bukan juga perkara yang mudah. Kita harus pandai-pandai mengatur dan menjaga siikap. Prinsip harus tetap dipegang. Kita juga harus pandai menjelaskan mengapa kita tidak dapat bersentuhan dengan lawan jenis, mengapa tidak memakan babi, dan lain sebagainya. Tapi dengan begitu saya makin bangga menjadi muslim. Karena kita memiliki prinsip dan memiliki sesuatu yang menurut mereka sendiri itu baik untuk kita. Seperti tidak meminum alcohol. Alhamdulillahnya seluruh delegasi dari Indonesia ialah muslim dan yang perempuan memakai jilbab, sehingga kita dapat saling menjaga dan mengingatkan satu dengan yang lainnya. Kita bisa sholat berjamaah, dan saling mentausiahi. Rasanya benar-benar beda. Karena yang muslim memang Cuma sedikit dari Indonesia bertujuh dan beberapa orang dari turki dan togo. .
Kegiatan kami disana tidak hanya diskusi dan rapat dengan delegasi dari lebih 20 negara, tetapi di sana kita juga mengunungi industri dan lahan pertanian serta tempat wisata di Negara itu. Kurang lebih ada 13 kuliah dan workshop selama di sana, kemudian 13 tempat yang dikunjungi berupa industri, universitas, dan lahan pertanian, serta sembilan kegiatan lainnya seperti hiking, games, dan sebagainya. Seluruh kegiatan memiliki kaitan dengan ketahanan dan kualitas makanan. Dan selalu dilihat dari sisi ekonomi, proses dan sisi produksinya. Sehingga pembahasan suatu maalah jadi lebih komprehensif dan meyuluruh. Kegiatan yang dilakuakn ini ada setiap tahun dengan tema yang berbeda tiap tahunnya. Saya sangat berutnung dapat hadir pada pertemuan kali ini, karean tema tahun ini sangat berhubungan erat dengan studi yang dilakuakn saat ini. Alhamdulillah, jadi selama ini yang hanya kami dapat di bangku kuliah secara teori, sekarang kami melihat bagaimana sebenarnya pengaplikasiannya di dunia nyata-industri.
Momen yang paling berkesan ialah ketika saya harus mempresentasikan makalah yang di bawa dari Indonesia dihadapan mahasiswa-mahasiswa lain dari berbagai penjuru dunia. Dan boleh percaya atau tidak, kami ialah delegasi yang umurnya paling muda diantara delegasi dari Negara lainnya. Rata-rata dari mereka sedang tingkat akhir dan pendidikan master. Dari kegaitan ini kami belajar banyak hal. Yang paling berkesan ialah kedisiplinan mereka. Semuanya serba tepat waktu. Rapi dan teratur. Bertemu dengan sesame orang Indonesia di luar negeri juga jadi pengalaman yang unik. Baru saja ketemu, tetapi seperti sudah mengenal lama bahkan sudah kayak saudara sendiri. Luar biasa. Rasa nasionalisme yang kuat muncul begitu saja. Rasa yang jarang terjadi jika tinggal di Indonesia.
Memberikan yang terbaik bagi bangsa ini adalah tugas kami. Sebagai generasi masa mendatang, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan yang terbaik untuk kebermanfaatan negeri ini. Semoga cita-cita untuk mengembalikan kejayaan dan kedaulatan negeri ini akan terus membara di dalam sanubari. Dan akan terwujud suatu saat nanti. Tiada yang tidak mungkin. Semua akan ada jalannya jika kita mau. Berusaha sekuat tenaga bersama-sama. Jika mereka bisa, mengapa kita tidak? Kita pasti bisa! Hidup Indonesia!