International Hydrocolloid Conference 2014

2014-05-07 10.14.17Baru saja beberapa hari yang lalu (5-9 Mei 2014), saya bersama Professor saya menghadiri salah satu event penting dua tahunan para pakar hidrokoloid dari seluruh dunia. Pernah tahu hidrokoloid? Hidrokoloid itu suatu polimer larut dalam air, mampu membentuk koloid dan mampu mengentalkan larutan atau membentuk gel. Produknya dalam industry pangan sangat berguna untuk menstabilkan dan pembentuk tekstur dalam larutan. Produk umum dari hidrokoloid antara lain gum, karagenan, pati, dan sebagainya.

Dalam event tersebut, pikiran saya menjadi terbuka bahwa sebetulnya peluang Indonesia sangatlah besar dalam hal ini. Jika kita menengok lebih jauh, kebutuhan akan bahan baku tambahan pangan (food ingredients) pada industri pangan dunia dari tahun 2005 hingga tahun 2010 meningkat cukup besar, yaituberkisar 2,4% setiap tahunnya. Nilai komoditas bahan tambahan pangan yang digunakan di seluruh dunia ini pada tahun 2010 mencapai lebih dari 34,2 miliar US Dolar. Sepuluh perusahaan terbesar di bidang ini menguasai lebih dari 80% perdagangan bahan tambahan pangan dunia. Bahan tambahan pangan yang terdiri dari perisa, pengisi, pengental, pengawet, pengasam, enzim, pewarna, pengemulsi, pemanis, dan sebagainya ini digunakan untuk membantu mewujudkan sifat yang diinginkan pada produk pangan. Dari berbagai jenis bahan tambahan pangan yang ada, tiga besar komoditas yang paling banyak dipakai pada industri pangan adalah bumbu-rempah, perisa manis, dan hidrokoloid. Selanjutnya juga diprediksi bahwa komoditas hidrokoloid ini masih akan menduduki peringkat tiga teratas perdagangan bahan tambahan pangan dunia selama 5 tahun mendatang.Berdasarkan analisis Borgenson (2002), bahan pangan yang dapat dijadikan bahan tambahan pangan hidrokoloid banyak jenisnya, tiga jenis diantaranya yang diperdagangkan paling banyak adalah pati, gelatin dan karagenan. Perdagangan pati di dunia saat ini mencapai 70% dari nilai total pemasaran hidrokoloid, disusul dengan gelatin 12%, dan karagenan sebanyak 5%.

Dari sinilah, yang cukup menggelitik pikiran bahwa jika kita serius untuk eksplorasi bahan baku lokal tropika Indonesia sebagai produk ingredient hidrokoloid pangan di dunia, maka bisa jadi negara atau perusahaan lokal kita tidak perlu bergantung dengan perusahaan asing penghasil vahan baku hidrokoloid itu. Jika kita mengengok lebih dalam pada masing-masing komoditasyang dibutuhkan untuk menghasilkan hidrokoloid, Indonesia ternyata memiliki bahan baku lokal tropis yang mampu dijadikan sebagai bahan tambahan pangan hidrokoloid dalam jumlah yang sangat besar.Sumber daya lokal yang dapat dimanfaatkan ialah sagu, singkong, ubi jalar, dan rumput laut yang dapat diolah menjadi bahan tambahan pangan hidrokoloid. Hal ini dikarenakan ketersediaan empat komoditas tersebut banyak dan menjadi komoditas unggulan di berbagai wilayah di Indonesia.  Berdasarkan hasil penelitian Moorthy (2002) dan Ellis et al. (1998) pati yang dihasilkan dari sagu, singkong, dan ubi jalar serta penelitian Campo et al. (2009) mengenai karagenan dari rumput laut terbukti unggul dan mampu bersaing dalam komoditas perdagangan bahan tambahan pangan hidrokoloid dunia. Keunggulan ini dilihat dari segi sifat fisik, produktifitas, dan efesiensi pengolahan dibandingkan dengan komoditas subtropik. Selain itu, lahan sagu terluas di dunia berada di Indonesia. Dari 2,5 juta hektar lahan sagu di dunia, 1,4 juta hektarnya terdapat di Indonesia. Singkong yang diproduksi baru 139.000 ton per tahun, sedangkan ubi jalar diproduksi 11.200 ton per tahun. Jumlah ini baru setara 2% dari total kebutuhan dunia. Produksi ini dapat ditingkatkan dan dimaksimalkan karena tanaman ini cocok untuk dikembangkan di Indonesia. Pati yang dihasilkan dari sagu, singkong, dan ubi jalar juga dapat dimodifikasi sehingga memiliki kegunaan spesifik yang cocok dengan kebutuhan industri pangan di dunia. Hal ini tentunya menambah keunggulan pati lokal sehingga dapat bersaing sebagai bahan tambahan pangan hidrokoloid di dunia. Sedangkan dari rumput laut, data Dirjen P2HP Departemen Kelautan dan Perikanan menunjukkan bahwa rumput laut dari jenis Kappaphycus alverezii di Indonesia telahdibudidayakan di18 provinsi dengan areal seluas 17.416 hektardan target produksi sebesar 1.899.200 tonsertadiprediksikan akan meningkat 19,45% tiap tahunnya. Karagenan memiliki  enam bentuk dasar yakni Iota (ί), Kappa (κ), Lambda (λ), Mu (η), Nu (ν) dan Theta (θ) dimana menurut Tarl dan Pekcan (2008) karagenan memiliki tingkat fleksibilitas penggunaan yang lebih baik pada aspek derajat kekentalan dan kekenyalan karena dapat diatur dengan menggunakan suhu, kehadiran senyawa organik lain, serta garam. Sehingga aplikasinya dapat digunakan secara lebih luas pada industri dibandingkan alginate. Fakta tersebut juga menunjukkan bahwa nilai jual industri karagenan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan alginate dikarenakan aplikasi karagenan jauh lebih luas dibandingkan dengan alginate.

Melihat potensi pengembangan sumber daya lokal Indonesia sebagai bahan baku tambahan pangan dunia yang besar, maka diperlukan kerjasama dan langkah kongkret dari berbagai pihak untuk memaksimalkan potensinya. Sebagai negara tropis sudah sepantasnya Indonesia menjadi bangga dan unggul dengan sumber daya lokal. Hidup Indonesia!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s