Edisi Leadership : Belajar dari Teori Sistem

Serius deh.. ini kuliah umum di nutrifood yang berat banget bahasannya. Bahas tentang filsafat. Bagaimana seorang leader harus memahami teori system. Dibawakan oleh bapak Budi, lulusan doctor jerman jurusan filsafat. Wew…. Mantap..

Pertanyaan pertama adalah… mengapa harus teori system? Nah.. ini dia jawabannya…

1. Strategi memimpin di masa depan harus responsive dan tidak bisa memandang sumber masalah pada manusia. Yang ke 2. Karena struktur organisasi masa depan telah menuju dari model mekanistis menuju model yang lebih organic atau model informative. …

Teori system sangat mendukung paradigm “new science”. Pradigma ini melandaskan segala sesuatu dianggap sebagai sebuah satu kesatuan dan saling terkait, sangat mementingkan relasi atau hubungan antar kejadian,mengenal adanya medan (tidak hanya gaya), dan percaya pada peluang (tidak ada sesuatu pun yang pasti).

Nah, pak budi juga menjelaskan bagaimana caranya ktia berfikir secara system? Bisakita mbil dari satu kutipan seorang sufi “You think because you understand one you must understand two, because one and one makes two. But you must also understand AND.” Wahahahaha…. Bingung gak…. Gak ya… intinya adalah relation… jadi jangan terlalu memperhatikan subjeknya.. tetapi justru relasi itu yang penting.

Dalam teori system, kita mengenal bahwa segala sesuatu pada awalnya bersifat chaos. Nah, saat chaos ini menjadi cosmos, ia berdiferensiasi. System adalah reduksi kompleksitas. Menurunkan entropi. Jadi kalau ada system yang malah membuat semakin rumit… wah bukan system itu namanya… bakar aja tu system… hahaha….

Seorang pemimpin adalah seorang yang mampu menyederhanakan masalah, mereduksi kompleksitas.. bahasa kerennya… hehehe… Setiap masalah adalah kompleksitas. Kompleksitas berarti “sesuatu dapat tidak terduga”. Mengatasi masalah berarti membangun sistem (reduksi kompleksitas) untuk memasukan hal-hal dalam ordo, organisasi dan struktur (yang dapat diantisipasi).

Bagaimana? Semakin menarik? Atau semakin bingung? Hehehe… Oke, lanjut ya… sekarang bagaimana lahirnya struktur?

Nah… Reduksi kompleksitas melahirkan system. Bersamaan dengan itu hal-hal di dalam sistem berhubungan satu sama lain dan terbentuklah ordo (tatanan). Berfungsinya ordo itu disebut organisasi dan Bentuk ordo itu disebutlah struktur Semua sistem, justru karena ia adalah sistem, berciri impersonal dan anonim. Artinya seorang pemimpin juga seakan diajak untuk lebih impersonal dan anonym. Impersonal artinya tidak boleh terlalu pusing dengan perasaan dan emosional. Sedangkan anonym berarti tidak boleh menyombongkan diri karena kegagalan dan kesuksesan bukanlah akibat dari subjek, melainkan relasi dan system itu sendiri…

Kita mengenal berbagai macam jenis system. Diantaranya adalah 1. Sistem mekanis (mesin). 2. Sistem Organis (mahluk). 3. Sistem psikis (jiwa). Dan 4. Sistem Semiotis (masyarakat). Setiap system tersebut membentuk dirinya sendiri, atau biasa disebut autopoitesis. Karena itulah system selalu imun. Sistem cenderung otonom dari lingkungannya dengan logikanya sendiri. Selain itu, Sistem cenderung membatasi diri dari hal-hal dalam lingkungannya, dan Sistem cenderung lembam, memproteksi diri dan kurang sensitif terhadap peristiwa dalam lingkungan. Efeknya terhadapa kepemimpinan adalah Setiap unit kegiatan yang dibentuk akan memiliki mekanisme otonomnya, maka pendekatan kepemimpinan harus berkembang dari directing menjadi coaching kemudian supporting dan delegating. Malfungsi sebuah sistem tidak serta merta merobohkan sistem itu. sistem dapat memulihkan diri (autopoietis), maka lebih dibutuhkan dukungan daripada intervensi. Maka yang tak boleh hilang dari seorang pemimpin adalah HARAPAN!

Mulai eneg? Hehehe… ini menarik ya… ternyata ada ya… orang yang mikirin beginian sepanjang hidupnya… mikirin bagaimana system terbentuk dan sebagainya…

Sesi terakhir, pak budi menjelaskan mengenai komunikasi based on teori system. Menurut Luhmann “Kejujuran tidak dapat dikomunikasikan, Karena kejujuran menjadi tidak jujur lewat komunikasi”. Kok bisa? Hehehe…yup, soalnya dalam komunikasi, antara penyampai dan penerima, banyak sekali noisenya… kalau bahasa kerennya.. kontingensi ganda.. (nah lo…). Artinya secara naluri alamiah, kita menyeleksi apa saja yang akan diomongkan, begitu juga yang didengarkan.

Bagaimana implikasinya terhadap seorang pemimpin? Bukan orang-orang yang menghasilkan aspirasi, informasi, gosip, melainkan bagaimana komunikasi diorganisasikan dalam perusahaan. “Corporate culture” adalah sistem semiotis yang autopoietis, maka tiap anggota baru akan terintegrasi di dalamnya: Bukan motivasi yang menghasilkan sistem, melainkan sistemlah yang membentuk motivasi. Jika ada masalah komunikasi, tanganilah komunikasi sebagai sistem, dan bukan orang-orangnya. Misal: prosedur atau mekanisme komunikasi.

Bravo…! Semoga bermanfaat ya… maaf kalau saya tidak bisa mereduksi kompleksitas dari tulisan ini… ini udah maksimal soalnya.. hehehe ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s