Pangan Bangsa, Tidak Sekedar Kata

Pangan memang suatu hal yang mendasar bagi manusia sebagai makhluk hidup. Panganlah salah satu sumber kehidupan. Euripedes mengatakan bahwa “When a man’s stomach is full it makes no difference whether he is rich or poor”. Di sisi lain, Woodrow Wilson mengatakan pula bahwa “Hunger does not breed reform; it breeds madness and all the ugly distempers that make an ordered life impossible”. Untuk itu, sektor ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Setiap warga Negara berhak untuk mendapatkan ketersediaan, akses, keamanan, keterjangkauan, dan kualitas pangan yang baik. Negara bertanggungjawab akan hal tersebut. Liberalisasi tidak bisa dijadikan alasan untuk sepenuhnya menyerahkan hak-hak pangan rakyat pada mekanisme pasar. Di sanalah pemerintah menjadi regulator dan penyeimbang.
Berbicara pangan memang agak kompleks, karena ia juga menyangkut daya beli dan pengetahuan konsumen untuk memilih. Banyak fakta telah membuktikan bahwa kemampuan informasi, ekonomi, dan sosial yang terbatas membuat konsumen menjadi tidak memiliki daya pilih yang baik. Faktor distribusi juga merupakan hal yang penting. Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang tersebar. Hal ini membuat jumlah pangan yang cukup saja tidak berarti apa-apa jika distribusinya buruk. Di sisi lain masalah serbuan produk impor menjadikan produk serta konsumen dituntut menjadi lebih bijak dalam menjaga kualitas dan efesiensinya.
Pangan yang aman tanpa disadari juga bagian dari isu penting keseluruhan masalah pangan. Konsumen harus terlindungi dari pangan yang membahayakan kesehatannya. Perlindungan ini dapat dicapai melalui sistem perlindungan keamanan pangan. Sebab, konsumen tidak dapat mendeteksi bahaya pada pangan kecuali telah mengkonsumsi dan merasakan efek bahayanya. Resikonya menjadi semakin besar ketika prosesnya terjadi pada negara yang berkembang. Artinya notabene negara tersebut belum memiliki sistem perlindungan keamanan pangan yang baik. Sistem pun perlu tidak hanya bergantung pada regulasi. Tetapi keberhasilannya juga ditentukan oleh aplikasi di lapangannya oleh perangkat yang ada. Negara kita salah satu contoh negara yang memiliki sistem belum cukup sempurna. dari sisi regulasi kita sudah memenuhi, tetapi, jika kita melihat dari sisi aplikasi, maka kita masih harus belajar dan berusaha lebih keras lagi. Bayangkan saja, dari jumlah ideal pengawas pangan berjumlah 6000 yang dibutuhkan, kita haya dapat memenuhi 2000-nya saja. Maka jangan heran, jika banyak kasus pangan terjadi akhir-akhir ini. Terungkap seolah-olah memang tak pernah diketahui.
Memang, terwujudnya keamanan pangan membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Tidak bisa hanya bertumpu pada otoritas pemerintah, meski pemerintahlah seharusnya yang paling bertanggung jawab. Akan tetapi bukankah menjadi indah, ketika setiap elemen bangsa mengambil tanggung jawab dan perannya masing-masing. Kaum intelektual akademisi berjuang untuk mengimplementasikan hasil-hasil penelitian, pemerintah menegakkan regulasi secara konsisten, konsumen mencari informasi dan peduli, dan pihak produsen menjaga kualitas produknya. Di sisi lain, kita juga perlu berterima kasih kepada media yang semakin hari semakin terbuka dan transparan. Merekalah yang membuat transformasi informasi menjadi semakin lebih cepat. Peran mereka tidak bisa diabaikan begitu saja. Merekalah yang membuat masyarakat menjadi lebih teredukasi, kritis, dan berani di samping hati-hati mengkonsumsi pangan yang mereka konsumsi. Dengan cara itulah keamanan pangan akan terwujud. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s