Efek Globalisasi dalam Ketahanan Pangan

Dunia yang akan datang akan berkembang menjadi tanpa batas, borderless area. Perpindahan manusia dan barang nantinya akan menjadi sedemikian bebas, tanpa peraturan berbelit, setiap orang dapat menginjakkan kakinya dimana saja. Begitu pula komoditas kebutuhan manusia yang semakin hari semakin kompleks, menuntut perpindahan barang menjadi semakin mudah, murah dan cepat.
Coba saja tengok barang kebutuhan kita sehari-hari. Berasal dari mana dan diproduksi oleh siapakah itu? Boleh jadi lebih banyak produksi bukan dalam negeri. Dalam dunia pangan, globalisasi memiliki efek yang cukup berbahaya jika tidak di diantisipasi secara baik. Globalisasi dapat meruntuhkan sistem ketahanan pangan sebuah bangsa. Kenapa begitu? Karena dengan adanya globalisasi maka dengan mudah, setiap barang produksi dari luar dapat masuk dan bersaing secara langsung dari hasil produksi dalam negeri. Bisa saja harga yang ditawarkan lebih murah, karena mereka memiliki efesiensi dan teknologi tinggi sehingga dapat menekan cost produksi mereka.
Umumnya kita berfikir secara parsial bahwa kita pasti akan beli yang lebih produk yang lebih murah itu. Tapi jika dipikirkan lebih lanjut, maka akan berapa banyak saudara kita yang kehilangan penghasilan karena produknya tidak bersaing di pasaran. Contohnya, jika kita membelanjakan 5000 rupiah untuk membeli suatu produk asing dibanding bila kita memberikan 7000 rupiah untuk membeli barang lokal maka akan lebih menguntungkan membeli yang 5000. Namun bila difikrkan lebih mendalam, maka sebenarnya lebih untung yang 7000, sebab keuntungan 5000 hanya dinikmati oleh pedagang dan produsen luar yang memiliki kontribusi sangat kecil terhadap kesejahteraan negara ini. Bayangkan jika kita belanja seharga 7000 maka bisa dibayangkan berapa banyak multi player effect yang dihasilkan. Mulai dari pedagang hingga produsen akan mendapat keuntungan yang berpihak kepada negeri ini.
Menjadi aneh bila kita tidak rela dan ikhlas membantu saudara sebangsa sendiri dengan hanya membeli produk lokal yang notabene memiliki selisih sedikit lebih mahal. Dimana rasa kebangsaan dan nasionalisme yang didengung-dengungkan? Seolah kita lupa, atau bahkan tak pernah terpercik keinginan untuk bersama membangun bangsa ini. Selisih 200 rupia,ere
Persiapan mutlak dilakukan jika kita ingin bersaing dengan produk luar lainnya. Efesiensi dan birokrasi harus dibenahi. Sebenarnya secara upstream produk kita bisa bersaing dari sisi efesiensi, tetapi keadaan berubah drastis saat melewati tahap selanjutnya yakni tahap produksi atau ke tingkat pengolahan lanjutan. Tahap distribusi hasil-hasil pertanian juga memegang peranan penting karena kenaikan harga biasanya terjadi pada tahap ini.
Sistem ketahanan pangan kita masih bertumpu pada beras. Berikut ini data produksi dan konsumsi makanan pokok bangsa indonesia sebagai pengonsumsi beras terbesar di dunia, yaitu 139 kg/capita/tahun. Data stok nasional saat ini memang menurun, dari 1 juta ton menjadi 700.000 ton. Dengan dilakukannya OP sebesar 100.000 ton saja sebulan, stok akan berkurang menjadi 600.000 ton. (Kompas, 13/02/2007).
Secara regulasi ketahanan pangan kita tertuang pada undang-undang No.7 Tahun 1996 mengenai hak rakyat atas ketersediaan pangan. Keputusan juga diperkuat oleh Keputusan Presiden RI No.132 tahun 2001 untuk membentuk Dewan Ketahanan Pangan dan diketuai langsung oleh Presiden. Regulasi yang cukup baik sayangnya masih belum cukup bagi kita untuk membentuk ketahanan pangan yang kuat. Usaha sudah ada, tetapi masih kalah oleh beras minded yang tertanam begitu kuat oleh rakyat negeri ini selama lebih dari 30 tahun. Kelemahan kita ialah kita belum mampu membuat program yang kontinu berkelanjutan dan sistematis untuk menguatkan implementasi dari kebijakan yang telah tertuang. Diperlukan beberapa generasi untuk menyelesaikan persoalan ini. Dimulai dari sisi pendidikan dasar, pemahaman orang tua terhadap masalah ini, peningkatan kesejahteraan sehingga semakin banyak pilihan pangan, dari sisi produksi maka diperlukan kontinuitas produksi bahan subtitusi dengan harga yang efesien terjangkau dan memiliki harga yang stabil pada setiap musim. Selain itu produk bahan subtitusi juga harus memiliki aplikasi yang luas dan dibantu teknologinya agar mampu bertahan kualitasnya dan stabil.
Berjalannya sistem yang sekarang ada mungkin belum mengalami masalah. Akan tetapi jika kita tidak menyiapkan hari saat kita mengalami krisis beras, maka kekacauan pasti terjadi di berbagai sektor, karena krisis di sektor merupakan sektor yang vital. Globalisasi menuntut setiap produsen untuk menjadi lebih efesien, memiliki kualitas produk prima dan terjangkau di masyarakat. Hal ini disebabkan persaingan akan semakin ketat dan yang menjadi pemenang ialah produsen dengan kualifikasi terbaik. Jika tidak mempersiapkan dan merasa puas dengan pencapaian selama ini, maka bisa jadi masyarakat akan lebih memilih membeli dan mengkonsumsi barang produksi orang lain. Sisi produksi yang sudah efisien akan jadi tidak berarti jika proses distribusi bermasalah. Maka efesiensi di sisi distribusi juga sangat penting. Semakin panjang jalur distribusi maka akan semakin menaikkan harga. Disamping itu semakin sulit daerah dijangkau juga menjadi masalah.
Setiap elemen dari bangsa ini memeiliki tanggung jawab terhadap permasalahan di atas. Dimulai dari sisi akademisi, kemudian pemerintah, dan pihak swasta. Dari sisi akademisi, para akademisi bertugas untuk mentransfer teknologi, mencari teknologi yang tepat, mencari inovasi , menganalisis serta memberikan saran kepada pengambil kebijakan. Selain itu memberikan penyuluhan dan mensurvei serta menganalisis menanamkan pemahaman lewat kurikulum dan system pendidikan. permasalahan yang ada ddegnan disiplin keilmuan masing-masing. Selain itu, pemerintah harusnya memiliki kebijakan jangka panjang yang dipegang secara teguh meskipun telah berganti orang. Artinya memiliki kebijakan atau strategi yang kontinu dan berkelanjutan serta bersifat menyelesaikan permasalahan dari akar meskipun memiliki penyelesaian lama. Bukan sekedar getok ular atau mencari solusi – solusi jangka pendek. Kemudian memfasilitasi lewat kewengangn membuaat peraturan daerah yang mensuport kebijakan ketahanan pangan. Tiap daerah juga harus berkomitmen untuk memilih satu bahan lokal yang dijadikan unggulan daerah, sehingga ketersediaan dan bargaining harga mampu lebih baik. Menciptakan iklim yang baik utnuk berusaha tidak ada pungutan liar, tidak ada pengurusan birokrasi yang berbelit-belit. Memfasilitasi pembangunan daerah-fasilitas transportasi dan distribusi. Implementasi otonomi penuh untuk mengelola kekayaan alam daerahnya sendiri. Dari sisi swasta ialah memberikan support dana, melakukan ekspansi usaha, investasi, promosi ketiga elemen ini harus memiliki hubungan yang harmonis dan sinergi sehingga mampu memberikan keuntungan dan kemaslahatan untuk ketahanan pangan. Dengan adanya sinergi ini maka diharapkan setiap peran mampu beran maksimal pada bidangnya masing-masing. Karena sistem tidak hanya bertumpu pada aturan main, tetapi menyamngkut pemainnya juga. Pemain harus mendapat perhatian khussu juga sebab yang menjalankan ialah ialah orang yang berada di belakang aturan main itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s