Valentine days..masih jaman ya?

Hari gini masih ikut-ikutan? Hmm.. apalagi ikut-ikutan sama kebudayaan yang jelek? Kayaknya bukan jamannya lagi deh! Sebagai orang Indonesia, apalagi sebagai muslim..sungguh sangat tidak pantas kita mengikuti kebudayaan dan praktek-praktek kaum lain. Kalo kebudayaan itu bagus sih gak papa, tapi masalahnya ini dah ngerusak cara berpikir, gaya hidup, dan parahnya lagi, bikin kita nambah dosa. Ih serem!
Emang sih gak segitunya.. tapi ini masalah harga diri dan jati diri kita sebagai bangsa indoensia dan seorang muslim. Dah pada tau sejarah valentine kan? Kenapa akhirnya jadi valentine days? Ato malah gak tau? Wah..parah! udah ngikutin, tapi gak tau apa-apa yang diikutin..? makanya, banyak baca, direnungkan dulu sebelum bertindak sesuatu. Apalagi kita sebagai kaum terpelajar! Ingat kita kaum terpelajar! Masa Cuma ikut-ikutan gak jelas…
Oke deh..biar gak penasaran..nih sejarah valentine…. The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day :

“Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine’s Day probably came from a combination of all three of those sources–plus the belief that spring is a time for lovers.”

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama –nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).

Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).

Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, yang artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!
Nah udah jelaskan? Betapa gak pantes kita ngikutin mereka… gini aja deh.. emang sih kata orang semua tergantung dari niat, tapi kalo caranya gak bener..ya bikin dosa juga kan? Kasih saying seolah-olah terbatas hanya pada pacar kita, ato orang yang jadi gebetan kita… padahal.. inget gak sih..masih ada orang yang harus nya kita cintai lebih dari mereka dan kasih sayangnya itu harus tiap hari.. ibu kita, adek2 kita..sahabat kita..dan yang paling penting tuhan kita!!
Nah..ada yang ngebanttah..enggak kok..kita kan Cuma manfaatin moment aja.. sayang kalo dilewatin.nah lo? Ya ampun..selama ini kemana aje lo? Gak usah deh pake ngorbanin kebudayaan en gaya hidup kita gara-gara moment yang sejatinya Cuma mau ngerusak akhlak kita. Makanya kalo mau melakukan sesuatu tuh coba dong dipertimbangkan dengan baik..apa ini baik untuk ku? Apa ini berdosa jika dilakukan? Bagaimana efeknya dengan orang lain? Gitu dong… jangan Cuma jadi generasi membebek… korban iklan dan gaya hidup orang.. kita jamin hidup ente pada yah.. Cuma biasa-biasa aja…
Buktiin deh kalo berani! Maju sini! Hehehe…
wallahualam bissawab (dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s