Ketika Cinta Produk Pangan Dalam Negeri Saja Tidaklah Cukup

Cintailah produk dalam negeri. Mungkin kata itulah yang sering kita dengar saat ini. Bagaimana tidak, iklan di televisi, poster besar di tempat strategis berbagai penjuru kota, hingga di layar monitor dunia internet. Tapi lihat, apa yang anda makan tadi pagi, tadi siang, atau tadi malam? Masih minum softdrink, atau makan spaghetti, atau makan tempe dengan kedelai impornya? Memang ironi, tapi inilah kondisinya. Masyarakat kita masih tidak bisa terlepas dalam mengkonsumsi makanan “luar”. Kita masih suka dengan hal-hal yang berbau luar negeri. Seakan lebih hebat dan lebih baik. Padahal kalau mau diteliti lebih jauh, seberapa bergizinya makanan burger dengan gado-gado Bi Ijah? Berapa harga sepiring kentang goreng frenchfries dengan soto ayam? Masih kah kita berbangga dengan mengonsumsi makanan “luar” tersebut.

Mencintai mungkin sudah. Tapi cinta saja ternyata belum cukup. Masyarakat perlu memiliki daya beli dan mudah untuk mengakses kebutuhan terhadap produk pangan dalam negeri tersebut. Adalah nonsense ketika menyeru agar masyarakat mencintai produk pangan dalam negeri dan akhirnya menggunakan produk pangan dalam negeri sementara harga dari barang tersebut mahal serta sulit untuk diakses. Memang selama ini masalah pangan kita berkutat pada empat aspek yang saling terkait. Mulai dari aspek ketersediaan atau produksi, aspek distribusi, aspek konsumsi, dan kemiskinan. Keempat aspek ini akan teratasi dengan memperkuat sumber pangan lokal dan meyulut jiwa kewirausahaan masyarakat dengan aktifitas berbasis pangan lokal tersebut untuk memproduksi sesuatu yang berguna dan terintegrasi dengan industri.

Pangan memang adalah hal yang krusial dalam berbagai dimensi kehidupan ini. Betapa tidak, manusia tetap saja manusia. Butuh makan dan minum. Tanpa itu, manusia menjadi sulit beraktifitas dan tidak mampu berpikir dengan baik. “Hunger does not breed reform; it breeds madness and all the ugly distempers that make an ordered life impossible”, begitu kata Woodrow Wilson. Setiap Negara di dunia ini, setiap pemerintah di setiap sudut manapun di dunia ini menginginkan rakyat mereka tercukupi kebutuhan pangannya dengan caranya masing-masing. Negara kita juga sama. Bahkan kita telah memiliki undang-undang tersendiri tentang pangan melalui UU No 7 Tahun 1996.

Secara umum, permasalahan pangan di setia negara memiliki kemiripan yakni kondisi dimana jumlah penduduk terus meningkat sedangkan peningkatan itu tidak diimbangi dengan peningkatan produksi bahan pokok. Besar selisih inilah yang membuat sebuah dikatakan berhasil atau tidak dalam menghadapi ketahanan pangan. Jika kita sama-sama tidak serius dalam menghadapi ini, maka cepat atau lambat permasalahan ini akan menjalar pada berbagai aspek seperti sosial, ekonomi, dan kualitas sumber daya manusia. Seperti mata rantai yang tidak dapat dipisahkan, masalah ini saling berkaitan satu sama lain untuk itu perlu sekali dicari sistem solusi yang tidak hanya efektif dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang pula.

Di sisi lain, kita masih punya harapan untuk keluar dari ironi ini. Kita memiliki berbagai jenis tanaman pangan lokal yang dapat tumbuh baik di hampir semua jenis lahan sepanjang tahun. Tercatat oleh deptan sebagai sumber karbohidrat saja misalkan, kita memiliki padi sebanyak lebih dari 57 juta ton, jagung 13.3 juta ton, singkong 15 juta ton dan sumber karbohidrat minor lainnya per tahunnya. Dengan jumlah konsumsi karbohidrat per kapita yang disarankan sebesar 300 gram perkapita perhari dan dengan produksi yang demikian, seharusnya terdapat surplus karbohidrat sebesar lebih dari 2 kali lipatnya konsumsi karbohidrat. Tapi mengapa masih saja ada dan terdengar di media massa banyak yang terkena busung lapar, atau penyakit kurang gizi. Ini artinya permasalahan seperti yang telah disebut bahwa masalahnya lebih dari sekedar ketersediaan, tetapi juga akses serta daya beli masyarakat kita, dan yang paling penting kemauan serta pemahaman anggota keluarga terhadap pentingnya pemenuhan gizi keluarga.

Luas wilayah negara kita yang sangat besar membuat distribusi menjadi persoalan penting bagi bangsa ini. Kita ambil contoh beras. Bandingkan saja dengan negara tetangga kita Thailand yang saat ini menjadi salah satu pengekspor beras dunia. Berdasarkan data, harga produksi rata-rata gabah atau beras antara Indonesia dan Thailand tidak terlalu berbeda jauh sekitar 100 USD per ton. Namun harga beras di pasaran antara Thailand dan Indonesia cukup berbeda jauh. Harga beras di Indonesia sampai awal tahun 2004 berkisar antara Rp. 2.750, 00 – Rp. 3.000, 00. Harga beras di Thailand lebih lebih murah dibandingkan itu. Perbedaan ini tidak dapat dihindarkan, namun bisa ditekan. Kurangnya infrastruktur dan efektifitas transportasi harus dibenahi, begitu pula pungutan-pungutan liar selama distribusi harus pula ditertibkan.

Masalah tidak berhenti sampai disitu. Secara sadar kita juga turut menyumbang kesalahan akumulatif ini. Pola konsumsi kita masih didominasi oleh beras. Tercatat sekitar 134 kg /kapita kita konsumsi tiap tahunnya. Jumlah ini merupakan yang tertinggi di dunia. Kita masih sulit untuk berpindah karena beras kini bukanlah sekedar makanan pokok. Namun sudah menjadi kebudayaan. Begitu mengakar sehingga sangat sulit untuk dilepaskan. Yang bisa dilakukan ialah bukan menghentikan laju konsumsi beras sesungguhnya, tetapi seharusnya mampu memberikan alternatif yang banyak selain beras untuk dijadikan bahan pangan pokok. Seperti yang telah dijelaskan, bahwa ketersediaan saja tidak cukup. Tetapi dibutuhkan akses serta kemampuan daya beli terhadap alternatif bahan pokok tersebut. Edukasi mutlak diperlukan sejak dini untuk mengenalkan sumber-sumber bahan karbohidrat karena tingkat pengetahuan secara nyata turut mempengaruhi pola konsumsi disamping kemampuan daya belinya.

Menyelesaikan permasalahan pangan bangsa memang seperti mengurai benang kusut yang tak habis-habis. Rasa itu sah-sah saja. Tapi mau sampai kapan kita akan terus dalam kondisi seperti ini? Jika tidak kita akan dilindas oleh negara lain yang siap menghadapi ini. Apalagi di masa yang tidak lama lagi, persaingan dalam pasar bebas global segera diberlakukan. Jika kita tidak memperbaiki kualitas dan sistem ketahanan pangan kita, maka bisa jadi bukan hikayat belaka bahwa ada sebuah negara agraris yang kaya akan sumber daya lokal pangan, namun masyarakatnya mati kelaparan atau kekurangan gizi. Menyedihkan.

Dalam menghadapi dan mengantisipasi kemungkinan yang terjadi, perlu sekali negara kita dengan sistem otonomi daerah yang saat ini berjalan memiliki industrialisasi ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal. Setiap daerah memiliki ikon produk yang dikembangkan dari hulu hingga hilir dengan bekerjasama lintas sektoral. Kalangan akademisi mengembangkan teknologi dan scale up yang dapat diterapkan di dunia industri serta inovasi produk turunannya. Kalangan bisnis memasarkan dan memprosesnya dengan ekonomis melalui manajerial, mempersiapkan strategi, penanaman modal, dan penjaminan pemasaran. Sedang pemerintah mengkordinasi fasilitas, mempermudah perizinan, dan menertibkan pungutan liar, serta mengatur sistem perpajakannya. Dan masyarakat sebagai konsumen sekaligus stake holdernya dibuat merasa bangga dengan memiliki ikon komoditas daerah. Berkaca pada negeri seberang Amerika. Pemerintah daerah malah sampai membuat kebijakan untuk mencantumkan ikon produk unggulan merek di plat nomor kendaraan bermotor setiap warganya.

Melalui mekanisme yang tetap memanfaatkan petani sebagai penerima nilai tambah, maka perlu dukungan untuk petani saat ini tidak hanya menghasilkan bahan mentah tanpa proses apapun. Kini sudah saatnya petani memiliki alat pemrosesan sederhana sehingga tidak bahan mentah yang dijual ke koperasi atau industri di atasnya. Tetapi bahan setengah jadi. Sebab melalui margin inilah petani mampu meraup keuntungan lebih banyak sehingga petani dapat menjadi lebih sejahtera. Gudang persediaan juga harus dimanfaatkan secara baik, sebab saat terjadi over supply, petani mampu menyimpan sehingga harga kemudian tidak menjadi jatuh.

Jika semua ini berjalan, maka tidaklah mustahil kita akan muncul kembali sebagai macan Asia yang dulu sempat disegani pada tahun 80an di seantero dunia. Dengan pangan yang cukup dan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat membuat produktifitas meningkat, dengan demikian akan membangkitkan kegiatan perekonomian. Semakin maju perekonomian, maka akan membuat angka kriminalitas semakin menurun dan kesenjangan akan semakin sempit. Kondisi politik juga cenderung stabil.

Pembangunan sistem pangan tidak dapat dibangun secara within dari dalam sistem. Sistem harus dibangun dan di support dari luar. Terutama dari sisi energi. Energi digunakan untuk memproses bahan pangan menjadi turunannya, selain itu energi diperlukan untuk mengangkut bahan pangan ke berbagai lokasi pemasaran. Energi yang jika berlebihan digunakan akan menimbulkan emisi yang dapat menimbulkan perubahan iklim sehingga akhirnya nanti mempengaruhi produktifitas hulu bahan pangan. Maka itu, selalu saja ada korelasi positif terhadap kenaikan harga energi terhadap kenaikan harga bahan pangan. Bahan pangan juga sangat dipengaruhi kebijakan politik dan ekonomi. Politik sangat terkait dengan keseriusan pemerintah untuk membantu berbagai aspek diluar pertanian yang mempengaruhi. Semisal kebijakan harga bbm, dan lain sebagainya. Sedangkan ekonomi mempengaruhi dari sisi tingkat suku bunga pinjaman terhadap kredit pertanian, kebijakan penanaman modal bagi industri terkait di bidang pertanian, ekspor impor bahan pangan serta kebijakan subsidi dan perpajakan di bidang pangan. Semua ini harus terintegerasi. Karena membangun sistem di bidang pangan tidak bisa untung dalam jangka pendek. Butuh pengorbanan untuk mencapai keuntungan jangka panjang. Masalahnya mau atau tidak. Selama ini kebijakan yang bersifat jangka pendek ditempuh selain untuk menyenangi rakyat, membangun image pemerintah, namun ternyata juga muncul keegoisan untuk tidak mengizinkan periode selanjutnya menerima keuntungan dari apa yang telah ditanam pada periode sekarang.

Sudah begitu banyak pemikir, ahli di bidang pertanian. namun ternyata kita saat ini kehilangan sosok seorang negarawan yang mampu berkorban saat ini demi kemajuan dan kesejahteraan masa mendatang. Saat ini sepertinya lebih banyak pedagang. Mau untung cepat dan banyak dalam jangka waktu yang cepat. Menghindari kerugian sesaat demi keuntungan yang lebih banyak dikemudian hari. Mungkin karena tidak sabar dan khawatir di periode mendatang, boleh jadi bukan saya yang menikmatinya. Sulit memang jika punya mental pelayan (pemerintah) seperti ini. Namun kita harus mulai sadar dan membangunkan yang lain. Jangan sampai kita diam saja.

Melalui kerjasamalah semua ini dapat terwujud. Pemerintah yang katanya mencintai rakyatnya harus dibuktikan dengan tidak sekedar berkata-kata.. Begitu pula kita sebagai masyarakat. Cintai produk pangan dalam negeri. Karena jika tidak siapa lagi? Hakikatnya inilah milik kita. Tapi ingat. Sekedar cinta belumlah cukup. butuh aksi tindakan nyata mari Bersama kita bangun negeri ini! Pangan jaya, rakyat makmur sejahtera.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s